Langsung ke konten utama

Postingan

Jalan Kita Masih Panjang

 Jalan Kita Masih Panjang Oleh : @leciseira Pernah ada saat di mana aku ingin menyerah menapaki jalan ini. Jalan hijrah yang masih sangat panjang. Aku lelah. Aku lelah merasa terasingkan. Aku lelah dikatakan tak gaul. Aku lelah menghadapi godaan yang datang menghadang.  Bukannya aku tak ingin berjuang. Namun, kamu tahu betul, berjuang sendirian itu sungguh melelahkan. Aku tidak bisa, aku tidak sanggup. Sedangkan jalan yang harus kutempuh masih sangat panjang. Masih sangat jauh dari tujuan akhir kehidupan.  Dengan imanku yang hanya secuil ini, bisakah aku sampai ke tujuan? Tiketku menuju surga, sudahkah aku miliki? Aku tahu, masih ada begitu banyak lagi yang harus aku lewati. Masih ada banyak rintangan yang harus aku hadapi. Dan, aku berharap Allah selalu bersedia menguatkan langkahku.  Aku harap aku mampu terus memperbaiki diri. Aku harap aku tak cepat berpuas diri. Aku harap aku tak terlena dengan segala pencapaian diri. Aku harap aku terus sadar bahwa aku hanyalah ...

Kok, Masih Pacaran?

 Kok, Masih Pacaran?  Oleh : @leciseira  Sejak dulu, aku selalu bertanya, "Mengapa ada banyak sekali orang yang mengerti aturan agama, tetapi masih berpacaran?"  Bukan niat mau membandingkan ilmu agama satu orang dengan yang lainnya. Hanya, terkadang aku sedih, mengapa banyak yang mengabaikan hal ini. Tak jarang aku melihat mereka yang tak malu memasang status tentang pacar tidak halalnya dan mengabaikan fakta bahwa hubungan mereka adalah sesuatu yang tidak benar.  Pada zaman ini, banyak sekali kutemui orang-orang dengan ilmu agama yang jauh lebih tinggi dariku, tetapi masih tak ragu menyandang status seperti itu. Miris, memang. Aku paham betul, ilmu agama yang kumiliki masih jauh di bawahnya. Namun, aku sangat menyayangkan ketika melihat hal ini terjadi di depan mataku.  Hanya karena kedua pihak sama-sama saleh dan salihah, bukan berarti jalinan hubungan pacaran menjadi sebuah hal yang halal. Lagi, tak akan ada orang saleh dan salihah yang akan berpacaran ...

Menggadaikan Akidah

 Menggadaikan Akidah  Oleh : @leciseira  Tak mudah jalan awal yang aku arungi selama berhijrah. Terlebih, aku adalah seorang aktris teater. Tiga tahun lebih menggeluti dunia ini, sering sekali aku ditawari peran yang bagus, tetapi mewajibkanku untuk melepaskan jilbabku. Awalnya, karena aku begitu mencintai dunia ini, tak ada gundah sedikit pun di hatiku unguk menanggalkan jilbabku. Saat itu, bagiku mendapatkan peran yang hebat adalah yang terpenting. Aku ingin semua orang takjub akan bakatku. Aku ingin semua orang kagum melihat kemampuan aktingku.  Dahulu, aku sering merasa kesal  ketika ada orang yang memarahiku karena aku sering sekali menggadaikan jilbabku demi sebuah peran. Sungguh, rasanya aku lelah dinasihati setiap kali selesai memainkan peran yang membuatku harus menanggalkan jilbab. Memangnya kenapa? Ini hidupku, ini pilihanku, ini bakat yang ingin aku kembangkan. Orang lain tak berhak mencampurinya. Benar, kan?  Namun, itu dulu. Jauh sebelum Allah...

Ya Allah. Aku Iri. Aku Cemburu

 Ya Allah. Aku Iri. Aku Cemburu  Oleh : @leciseira  Setiap kali aku melihat banyak orang yang selalu sanggup berlama-lama berinteraksi dengan Al-Qur'an, aku selalu cemburu. Aku iri. Mengapa aku tak bisa menjadi seperti mereka? Mengapa aku selalu malas melakukannya?  Setiap kali aku melihat banyak orang yang mampu konsisten menutup auratnya, aku selalu iri. Aku cemburu. Mengapa rasanya sulit sekali bagiku untuk melakukannya? Padahal, jauh di dalam lubuk hatiku, aku pun ingin melakukannya. Namun, selalu ada bagian dari hatiku yang seolah memberontak. Meski pemberontakan itu sudah berhasil aku kalahkan pun, selalu ada pihak yabg membuatku tak bisa menutup aurat dengan sempurna. Ya Allah, sesulit inikah jalan hijrahku?  Aku iri. Aku cemburu. Dengan banyak hati yang mampu menjaga kesuciannya. Sedangkan aku masih suka memendam perasaan yang tak seharusnya. Masih suka mengizinkan diriku jatuh cinta terlalu dalam selain pada-Nya.  Ya Allah. Aku cemburu. Aku iri. Me...

Jalan Pilihan 📝

 Jalan Pilihan  Oleh : @leciseira  Ada banyak alasan yang membuatku menuliskan ini. Pertama, aku harap tulisan sederhanaku ini bisa senantiasa menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Menyadarkanku kembali bahwa aku masih menjadi manusia yang berlumur dosa. Aku masih menjadi manusia yang senantiasa berbuat salah. Jadi, aku membutuhkan penguat agar bisa terus berpegang pada kebaikan. Agar meski banyak godaan yang menerpa pun, aku tak akan mudah goyah. Aku tak akan mudah menyerah.  Sejak aku memilih menapaki jalan ini, jujur saja, aku selalu takut jika aku akan sendiri. Pada zaman ini, banyak orang yang berusaha memperbaiki diri akhirnya perlahan akan terasingkan. Dijauhi dari khalayak karena terlalu berpegang teguh pada iman. Tak gaul, tak keren. Begitu katanya. Namun, banyak orang yang selalu menguatkanku. Mengatakan dengan lembut bahwa pada akhirnya Islam memang akan kembali dalam keadaan asing. Seperti ketika datang yang juga dalam keadaan asing.  Sebenarnya, ad...

Tuhan, Aku Merindukannya - Senandika Rindu

Hai, Fer. Aku rindu. Namun, sepertinya hingga kini aku masih tak bisa menitipkan rinduku untukmu. Tak apa. Sekarang aku sudah baik-baik saja. Lihat, aku sudah bisa tersenyum. Baiklah, maaf. Aku tahu, kesedihan ini masih kupendam sendirian. Kukubur dalam-dalam agar tak seorang pun mengetahuinya.  Kau tahu? Aku tak ingin membuatmu bersedih. Aku tak ingin membuatmu terluka. Setidaknya ... tidak lagi setelah kau pergi.  Aku sangat ingin membagikan kisah ini pada dunia, tapi ... hei. Aku tak tahu entah harus dari mana kisah ini dimulai. Bagiku, sejak kepergianmu, kisah ini sudah berakhir. Tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi yang harus aku katakan. Kau tahu? Seberapa sesak rindu yang selama ini menghinggapi dadaku?  Hei, Fer. Aku masih ingat senyum yang kau sunggingkan malam itu. Indah sekali. Rasanya, jika saja aku tahu kau akan pergi, aku tak akan pernah lepas dari senyum itu. Akan aku simpan rapat-rapat dalam memoriku. Agar aku tak akan pernah melupakannya. Jika saja aku...

"Jaga Lidahmu!" Hati-hati Membunuh Orang Lain dengan Perkataan!

"JAGA LIDAHMU!" Pernah denger kan, kutipan yang mengatakan bahwa "Lidah itu lebih tajam daripada pedang." Yap, itu bener. Bener banget  malah. Jadi, itu sebabnya kita mesti jaga lidah kita. Supaya nggak nyakitin hati orang lain! Lah, kok gitu? Iya! Karena, kita nggak akan pernah tau, sejauh mana perkataan kita bisa menyakiti hati orang lain. Kita nggak akan pernah tau, sejauh mana perkataan kita bisa membunuh mimpi orang lain. Dan kita nggak akan pernah tau, sejauh mana perkataan kita bisa melukai perasaan orang lain. Hei, nggak semua orang punya hati yang kuat! Banyak juga yang hatinya lemah. Yang nggak bisa denger kalimat kasar sedikit aja. Yang nggak bisa denger kritikan secuil aja. Yang nggak bisa denger hinaan sekelebat aja. Ada banyak orang yang hatinya lemah. Yang hatinya mudah terluka. Yang hatinya mudah merasa. Lantas, abis denger kalimat kita, jadi terpuruk, banyak pikiran, bahkan sampai sakit-sakitan. Nah, lho, ngeri, kan? I...