Langsung ke konten utama

Jalan Pilihan ๐Ÿ“

 Jalan Pilihan 

Oleh : @leciseira 



Ada banyak alasan yang membuatku menuliskan ini. Pertama, aku harap tulisan sederhanaku ini bisa senantiasa menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Menyadarkanku kembali bahwa aku masih menjadi manusia yang berlumur dosa. Aku masih menjadi manusia yang senantiasa berbuat salah. Jadi, aku membutuhkan penguat agar bisa terus berpegang pada kebaikan. Agar meski banyak godaan yang menerpa pun, aku tak akan mudah goyah. Aku tak akan mudah menyerah. 


Sejak aku memilih menapaki jalan ini, jujur saja, aku selalu takut jika aku akan sendiri. Pada zaman ini, banyak orang yang berusaha memperbaiki diri akhirnya perlahan akan terasingkan. Dijauhi dari khalayak karena terlalu berpegang teguh pada iman. Tak gaul, tak keren. Begitu katanya. Namun, banyak orang yang selalu menguatkanku. Mengatakan dengan lembut bahwa pada akhirnya Islam memang akan kembali dalam keadaan asing. Seperti ketika datang yang juga dalam keadaan asing. 


Sebenarnya, ada banyak hal yang aku sesali dalam hidup. Tentang mengapa aku terlalu terlambat untuk memutuskan teguh di jalan ini. Jalan hijrah yang semakin mendekatkan diri pada Ilahi. Mengapa tak lebih awal aku bertemu dengan orang-orang yang bersedia membantuku berjalan untuk berubah? Mengapa tak lebih awal hatiku menerima segala aturan yang diperintahkan Sang Khalik?


Jujur, aku menyesal. Seandainya aku berpindah dari zona nyaman jauh lebih cepat. Mungkin, sejak lama telah kutemukam kedamaian yang mengisi rongga hati seperti saat ini. Namun, takada kata terlambat untuk berubah. Benar, kan? Aku mempelajari itu dari banyak orang. 


Jadi, aku akan terus berjalan. Meski terkadang rasa lelah menghampiri. Namun, aku tak akan pernah berhenti. Beruntung, banyak sekali teman yang mau membantuku untuk terus berjalan. Mengingatkanku bahwa ada sebuah tempat yang akan menjadi tujuan akhir hidup ini. Surga, di mana semuanya akan abadi. 


Ini catatan perjalananku. Tentang betapa beratnya hijrah bagiku. Tentang betapa beratnya nenahan godaan dan nafsu. Tentang betapa inginnya aku menyerah ketika iman tengah melemah. Tentang betapa inginnya aku berhenti saat tengah putus asa. Ini catatan sederhana. Ditulis oleh seseorang yang masih berlumur dosa. 


Kepada siapa pun yang membacanya, aku harap bisa mengambil sedikit hikmah di dalamnya. Jika ada hal yang salah, semuanya murni karena aku yang hanya manusia biasa. Jika ada kebaikan yang terselip di dalamnya, itu semua karena izin Allah semata. 


Bismillah. Hamasah. ๐Ÿ”ฅ




~Leci Seira 

Stabat, 14 September 2020





#MujahidahWriter 

#InspiratorMuslimah 

#Day1 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan, Aku Merindukannya - Senandika Rindu

Hai, Fer. Aku rindu. Namun, sepertinya hingga kini aku masih tak bisa menitipkan rinduku untukmu. Tak apa. Sekarang aku sudah baik-baik saja. Lihat, aku sudah bisa tersenyum. Baiklah, maaf. Aku tahu, kesedihan ini masih kupendam sendirian. Kukubur dalam-dalam agar tak seorang pun mengetahuinya.  Kau tahu? Aku tak ingin membuatmu bersedih. Aku tak ingin membuatmu terluka. Setidaknya ... tidak lagi setelah kau pergi.  Aku sangat ingin membagikan kisah ini pada dunia, tapi ... hei. Aku tak tahu entah harus dari mana kisah ini dimulai. Bagiku, sejak kepergianmu, kisah ini sudah berakhir. Tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi yang harus aku katakan. Kau tahu? Seberapa sesak rindu yang selama ini menghinggapi dadaku?  Hei, Fer. Aku masih ingat senyum yang kau sunggingkan malam itu. Indah sekali. Rasanya, jika saja aku tahu kau akan pergi, aku tak akan pernah lepas dari senyum itu. Akan aku simpan rapat-rapat dalam memoriku. Agar aku tak akan pernah melupakannya. Jika saja aku...

Pelangi Putih - Kumpulan Cerpen Leci Seira

Pelangi Putih Karya Leci Seira        Tampaknya langit menolak bersahabat dalam waktu singkat. Pantulan warna kelabu hampir memenuhi seisi kota. Gemuruh pun sudah berulang kali memperdengarkan keperkasaannya di balik mega. Belum lagi curahan kesedihan dari langit yang semakin lama semakin bertambah intensitasnya.  Di sebuah halte bus, seorang gadis remaja tengah melenguhkan napas beberapa kali. Air mukanya kesal karena mendapati dirinya terjebak di sana. Karena ia bangun kesiangan hari ini, ia terpaksa terjebak hujan di halte itu dan sepertinya harus melewati kelas pertamanya. Ia mengalihkan pandangannya pada ponsel ditangannya. Berharap ada pesan masuk atau apapun yang mengabarkan bahwa perkuliahan hari ini dibatalkan karena hujan deras. Namun, siapa yang peduli itu? Selama dosen bisa datang, maka mahasiswa tidak bisa memutuskan seenaknya.  Perut gadis itu tiba-tiba berbunyi. Ia melirik arlojinya, lalu dahinya mengerut sembari menghela napas....