Langsung ke konten utama

Kalimat Penguat Dari Aku yang Rapuh

Untukmu, seseorang yang tengah merasa rapuh ….


Sejujurnya, aku sendiri tak pantas menguatkanmu. Karena, aku yakin aku tak sekuat dirimu. Mungkin, aku lebih rapuh darimu. Benar, aku tak mengerti masalahmu. Aku tak mengerti duduk perkaranya. Aku tak mengerti kondisi yang kau alami, sekuat apapun aku mencoba memahaminya. Aku hanya orang asing yang bodohnya berusaha menenangkanmu. Berharap kau bisa lebih kuat dan sabar dalam menghadapi cobaan setelah mendapat sedikit wejangan dariku. Tapi aku tau, aku salah. Aku yang tak tau apa-apa soalmu, mana mungkin jadi penguatmu saat kau tengah jatuh.

Kita baru saja saling mengenal. Bahkan sebelumnya tak pernah bertemu. Juga tak pernah berusaha mencari tahu lebih dalam. Tapi, bagiku kau selalu seperti kakakku. Meski seperti apapun kau menganggap hubungan ini. Sebelumnya, aku minta maaf karena aku sudah mencoba untuk mencampuri urusanmu. Bahkan terkesan selalu ingin mencampurinya. Betapa tidak tau dirinya aku ini.

Aku tidak tau, jika sudah berhubungan denganmu, aku selalu tak bisa tinggal diam. Kau tau? Aku peduli denganmu lebih dari yang kau tau. Bagaimanapun, aku selalu memerhatikanmu. Mungkin kau tak menyadarinya. Mungkin kau juga tak mengetahuinya. Tetapi, setiap keluhanmu menciptakan luka yang merobek hatiku. Semakin kau bersedih, semakin dalam pula luka di hatiku. Aku tau. Tau betul, bahwa derita yang kini kaurasakan itu begitu berat. Mungkin, jika aku jadi kau, aku juga akan mengatakan dan melakukan hal yang sama. Mengutuki diriku sendiri yang seolah menjadi sebab semua kesengsaraan. Namun, sekali lagi, aku tak memiliki beban seberat itu. Itulah sebabnya, aku tak berhak menguatkanmu. Karena aku tak pernah merasakannya. Benar, kan?

Tapi, aku mohon. Jangan menyerah. Aku tak bisa mengatakan hal lain selain itu. Aku bukan seorang yang pandai menguatkan orang lain hanya dengan kata-kata. Aku bukan orang yang pandai menenangkan orang lain hanya dengan kata-kata. Aku hanya akan berdoa, agar Allah segera memberimu kebahagiaan dan kebebasan. Tak tau hal itu akan terjadi seperti apa dan akan datang seberapa lama. Yang jelas, aku tak akan pernah berhenti berdoa untuk kebahagiaaanmu. Aku juga akan berdoa, jika kelak kita sama-sama dilahirkan kembali, aku akan berdoa agar aku terlahir sebagai adik kandungmu. Aku janji aku yang akan selalu menguatkanmu seandainya nasib buruk kembali menimpamu di kehidupan kedua nanti. Aku janji, aku akan selalu berada di sebelahmu, memelukmu dan melindungimu dari sumpah serapah dunia.

Kak, dunia ini kejam, kan? Dan dari kekejaman dunia, mengapa harus kau yang merasakannya? Mungkin, seringkali kau memikarkan hal itu. Aku paham. Aku tak menyalahkanmu. Karena jujur saja, terkadang … aku juga mengatakan hal yang sama. Merasa Allah telah mengecewakan kita dengan memberi sejuta cobaan yang sebenarnya tak mampu kita tanggung sendirian. Jika saja aku boleh meminjamkan pundakku, aku akan meminjamkannya untukmu. Akan kubiarkan kau menangis sejadinya di pundakku. Meski aku tak akan berbicara apa-apa. Karena sekali lagi, aku tak pandai menenangkan seseorang melalui kata-kataku.

Kak, aku mohon jangan menyerah. Tetaplah kuat dan bertahanlah. Aku akan berdoa untuk segala kesembuhanmu. Aku akan berdoa agar kau segera diberikan jalan keluar atas masalahmu. Kau pantas bahagia, kak. Kau selalu pantas untuk bahagia. Aku mohon, jangan berdoa yang tidak-tidak. Jujur saja, aku tak menyukainya. Jangan berpikir untuk menyerah, karena aku selalu ingin kau bisa bertahan.

Aku tahu, aku egois. Padahal aku tak mengerti bagaimana hancurnya kehidupanmu. Namun, aku masih ingin bisa lebih lama mengenal orang sepertimu. Menyaksikan pernikahanmu, menyaksikan kau bahagia dengan orang yang kaucintai. Bukankah, kau pernah berkata bahwa kau ingin menikahinya? Gadis yang mampu membuatmu menuliskan sajak-sajak indah. Jadi, aku mohon, jangan menyerah. Aku yakin, akan ada titik terang di dalam hidupmu. Maafkan aku. Maafkan aku yang egois ini.

Kau pasti tahu betul, sepedih apa rasanya kehilang orang yang kaucinta. Jadi, kau pasti tahu betul bagaimana perasaanku saat kau pergi. Kak, aku sudah pernah merasakannya tiga kali. Dan aku tak ingin aku merasakan yang keempat kalinya. Jadi, aku mohon bertahanlah. Aku paham, kita ini sepenuhnya milik Sang Khalik. Tapi, aku tetap berdoa bahwa waktuku mengenal orang sepertimu masih bisa lebih lama lagi. Jadi, aku mohon jangan menyerah. Dan sekali lagi, maafkan aku karena tak bisa langsung menguatkanmu. Aku selalu mendawaikan doa untukmu. Teruslah menulis. Meski dunia menentangmu. Aku selalu mendukungmu. Aku selalu mendoakan kesusksesanmu. Meski kau mengatakan bahwa kesuksesan tak akan menghampirimu sekalipun. Tapi, aku selalu mendoakan mimpi-mimpimu itu. Bahkan dalam sujud-sujudku.

Aku mohon, jangan menyerah. Allah pasti telah menyiapkan takdir yang indah untukmu. Kau bukanlah sebuah kesalahan di dunia. Kau pantas bahagia. Kau pantas mendapatkan cinta. Kau pantas untuk mewujudkan mimpi. Kau juga pantas untuk dihargai. Maafkan aku. Lagi-lagi aku ikut campur. Tapi sungguh, percayalah. Bahwa keadaanmu sekarang sangat menyakiti hatiku. Aku ingin kau kuat, tapi aku tak tau seberapa berat beban di pundakmu. Aku ingin kau bertahan, tapi aku tak tau seberapa tertekannya dirimu.

Maafkan aku, Kak. Aku tak bisa memberi solusi. Aku tak bisa memberi kekuatan. Mungkin justru memperkeruh keadaan. Tapi, aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa kita tak boleh kehilangan keimanan meski kita telah kehilangan segalanya sekalipun. Tak peduli kita telah kehilangan harta, kehilangan tahta, kehilangan keluarga, kehilangan cinta, atau kehilangan dunia sekalipun, semuanya tidak masalah. Tapi, jangan pernah sekali-kali kita kehilangan iman. Karena sungguh, iman yang mampu membuat kita bertahan menghadapi cobaan dan kekejaman dunia. Kau bersama Allah, itu saja sudah lebih dari cukup. Jadi, jangan menyerah ya, kak.





~Salam hangat dalam bait-bait doa




~Leci Seira 💞



Stabat, 07 Juli 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan, Aku Merindukannya - Senandika Rindu

Hai, Fer. Aku rindu. Namun, sepertinya hingga kini aku masih tak bisa menitipkan rinduku untukmu. Tak apa. Sekarang aku sudah baik-baik saja. Lihat, aku sudah bisa tersenyum. Baiklah, maaf. Aku tahu, kesedihan ini masih kupendam sendirian. Kukubur dalam-dalam agar tak seorang pun mengetahuinya.  Kau tahu? Aku tak ingin membuatmu bersedih. Aku tak ingin membuatmu terluka. Setidaknya ... tidak lagi setelah kau pergi.  Aku sangat ingin membagikan kisah ini pada dunia, tapi ... hei. Aku tak tahu entah harus dari mana kisah ini dimulai. Bagiku, sejak kepergianmu, kisah ini sudah berakhir. Tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi yang harus aku katakan. Kau tahu? Seberapa sesak rindu yang selama ini menghinggapi dadaku?  Hei, Fer. Aku masih ingat senyum yang kau sunggingkan malam itu. Indah sekali. Rasanya, jika saja aku tahu kau akan pergi, aku tak akan pernah lepas dari senyum itu. Akan aku simpan rapat-rapat dalam memoriku. Agar aku tak akan pernah melupakannya. Jika saja aku...

Jalan Pilihan 📝

 Jalan Pilihan  Oleh : @leciseira  Ada banyak alasan yang membuatku menuliskan ini. Pertama, aku harap tulisan sederhanaku ini bisa senantiasa menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Menyadarkanku kembali bahwa aku masih menjadi manusia yang berlumur dosa. Aku masih menjadi manusia yang senantiasa berbuat salah. Jadi, aku membutuhkan penguat agar bisa terus berpegang pada kebaikan. Agar meski banyak godaan yang menerpa pun, aku tak akan mudah goyah. Aku tak akan mudah menyerah.  Sejak aku memilih menapaki jalan ini, jujur saja, aku selalu takut jika aku akan sendiri. Pada zaman ini, banyak orang yang berusaha memperbaiki diri akhirnya perlahan akan terasingkan. Dijauhi dari khalayak karena terlalu berpegang teguh pada iman. Tak gaul, tak keren. Begitu katanya. Namun, banyak orang yang selalu menguatkanku. Mengatakan dengan lembut bahwa pada akhirnya Islam memang akan kembali dalam keadaan asing. Seperti ketika datang yang juga dalam keadaan asing.  Sebenarnya, ad...

Pelangi Putih - Kumpulan Cerpen Leci Seira

Pelangi Putih Karya Leci Seira        Tampaknya langit menolak bersahabat dalam waktu singkat. Pantulan warna kelabu hampir memenuhi seisi kota. Gemuruh pun sudah berulang kali memperdengarkan keperkasaannya di balik mega. Belum lagi curahan kesedihan dari langit yang semakin lama semakin bertambah intensitasnya.  Di sebuah halte bus, seorang gadis remaja tengah melenguhkan napas beberapa kali. Air mukanya kesal karena mendapati dirinya terjebak di sana. Karena ia bangun kesiangan hari ini, ia terpaksa terjebak hujan di halte itu dan sepertinya harus melewati kelas pertamanya. Ia mengalihkan pandangannya pada ponsel ditangannya. Berharap ada pesan masuk atau apapun yang mengabarkan bahwa perkuliahan hari ini dibatalkan karena hujan deras. Namun, siapa yang peduli itu? Selama dosen bisa datang, maka mahasiswa tidak bisa memutuskan seenaknya.  Perut gadis itu tiba-tiba berbunyi. Ia melirik arlojinya, lalu dahinya mengerut sembari menghela napas....