Langsung ke konten utama

Tujuh Alasan Kenapa Saya Menulis. Kalau Kamu Bagaimana?

Assalamu'alaykum penulis-penulis hebat..

Wah ... ini perdana saya nulis blog loh, hihi :D
Semoga tulisan saya bisa bermanfaat bagi teman-teman semuanya ya :) Aamiin..

Hari ini, saya akan membahas mengenai "7 Alasan Kenapa Saya Menulis."
Nah, teman-teman disini pernah gak sih, mikirin alasan kenapa kita harus menulis? Pengin nulis, tapi gak punya alasan kuat untuk memulainya. Kalau pernah, hari ini saya akan kasih tau alasan kuat kenapa kita sebagai manusia harus menulis. Ini alasan saya lho, kalau teman-teman mau jadikan bahan renungan, Alhamdulillah banget. Tapi kalau temen-temen gak setuju, itu hak temen-temen ya. Hehe..

Ikuzo...




1. Berdakwah Lewat Tulisan
    Jujur saja, sampai sekarang, ini menjadi alasan terkuat saya kenapa menulis. Saya sangat ingin menebarkan kebaikan melalui tulisan-tulisan saya. Saya bukanlah orang yang bisa memberikan motivasi secara langsung, atau menebarkan kebaikan secara langsung (terkadang juga bisa sih, hehe). Hanya saja, ketika saya membagikan kebaikan lewat tulisan, akan lebih banyak orang yang bisa saya jangkau. Akan lebih banyak orang yang bisa tergerak hatinya (mungkin) dengan membaca tulisan saya. Agar ketika kelak saya telah tiada, masih ada amalan yang bisa menolong saya pada saat hari perhitungan amal.


2. Saya Ingin Pintar
    Banyak orang-orang yang bilang, penulis adalah pembaca yang baik. Saya setuju nih, dengan pendapat ini. Kenapa? Karena beberapa penulis, sebelum menjadi penulis, dia adalah seorang pembaca. Lalu kemudian, mereka upgrade kemampuan membaca dan menerima informasi menjadi tulisan-tulisan yang memberikan informasi atau hiburan bagi orang lain. Nah, semakin banyak membaca, pengetahuan yang kita miliki kan, akan semakin luas juga. Kita juga bisa membagikan pengetahuan yang kita miliki pada orang lain. Kan, makin bertambah aja wawasan kita dengan berbagi.


3. Mengendalikan Emosi
    Bagi saya, menulis itu menjadi tempat mencurahkan segala emosi dalam dada saya. Saat senang, sedih, kecewa, putus asa, gelisah, atau mungkin beribu emosi lain yang berkecamuk dalam jiwa. Saya selalu tuliskan dalam kata-kata. Seorang guru Bahasa Indonesia saya saat SMA pernah bilang, "Daripada kita marah-marah gak jelas, ngomel-ngomel gak jelas karena kesal, lebih baik tuangkan aja kekesalan dan kemarahan itu dalam sebuah tulisan. Jadikan sebuah karya. Gak masalah gak ada yang baca. Atau hanya satu dua orang aja. Yang terpenting, kita gak buang-buang waktu buat marah-marah. Kita gak buat diri kita cepat tua. Malah bisa berkarya. Ya kan?"
    Nah, nasihat itu yang hingga ini saya pegang teguh dalam benak saya. Agar ketika saya marah, saya tak lantas langsung ngomel gak jelas. Tapi menuliskan kemarahan dan kekesalan dulu dalam karya tulis. Entah itu puisi, cerpen, atau mungkin tulisan abstrak yang hanya dimengerti oleh saya. Hehe.. Intinya, saya akan menulis apa saja hal yang mengganggu emosi saya. Agar saya bisa lebih mengontrol emosi, kesedihan, atau kekecewaan. Saat senang saya bisa membagikan kebahagiaan saya juga, bisa membagikan pengalaman saya. Barangkali ada yang turut bahagia saat saya menuliskannya.


4. Saya Ingin Dapat Penghasilan
    Kebanyakan permasalahan dari anak kuliahan yang juga merupakan anak rantau adalah : uang jajan yang sering pas-pasan. Hehe.. Karena saya sudah berpengalaman banget sebagai anak kos yang sering kehabisan uang, jadi saya mulai berpikir, usaha apa yang bisa saya lakukan supaya bisa dapat uang sendiri (walau sebenernya saya mendapat beasiswa). Tetapi, saya tak ingin terus-terusan memakai uang beasiswa saya. Makanya, saya ingin cari usaha agar bisa dapat uang jajan tambahan.        Tapi, masalah lain muncul. Saya tidak punya banyak keahlian, dan saya mengikuti banyak sekali organisasi di kampus, jadi tidak punya waktu untuk bekerja sambilan. Itulah sebabnya, saya berpikir bahwa menulis adalah cara termudah bagi saya untuk mendapatkan uang. Tinggal kirim karya ke koran atau nerbitin buku, In Syaa Allah bisa nambah uang jajan. Hehe... Memangnya semudah itu? Iya, mudah kok. Asal kita mau berusaha. In Syaa Allah nanti saya akan berbagi sedikit pengetahuan saya tentang tips untuk menulis buku.


5. Ekspresi Empati dan Simpati
    Saya pernah menulis sebuah cerpen berjudul "Pelangi Putih" yang menceritakan tentang seorang nenek tunawisma dan tunawicara yang bertemu dengan seorang gadis sebatang kara. In Syaa Allah, nanti akan saya share cerpen itu di blog ini juga ya. Cerpen "Pelangi Putih" boleh dibilang cukup sukses dalam ranah pembaca. Bahkan cerpen saya itu sampai masuk peringkat 1 nominasi kertas mingguan di penakota.id.
    Jika temen-temen mau tau alasan saya menulis cerpen itu, karena saya merasa prihatin melihat sebuah kejadian yang selalu saya lihat setiap hari. Suatu hari, saya melihat seorang nenek di sekitar kostan saya yang tengah mengais tong sampah. Awalnya saya mengira nenek itu hanya ingin mencari botol bekas saja, ternyata yang dicarinya adalah sisa nasi bungkus. Betapa hancurnya perasaan saya saat melihat nenek itu benar-benar menyuapkan sisa nasi yang ia temukan di tong sampah itu.
     Itulah sebabnya saya menulis cerpen ini, dengan harapan akan lebih banyak orang-orang baik yang bersedia membantu orang lain yang kekurangan. Atau paling tidak, agar orang-orang senantiasa mensyukuri nikmat yang Allah berikan pada kita.


6. Ingin Punya Banyak Teman
    Sepanjang saya terjun di dunia kepenulisan, hal yang paling membuat saya bersyukur adalah karena saya mempunyai banyak teman baru. Tidak hanya berasal dari daerah asal saya, tetapi juga dari berbagai penjuru Indonesia. Saya juga banyak belajar dari mereka tentang kepenulisan. Apalagi beberapa memang sudah sangat pro dalam menulis. Saya mendapat banyak dukungan dan semangat dari mereka, juga sedikit banyak belajar tentang budaya di daerah mereka masing-masing. Sungguh, itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Meski sebenarnya saya sendiri belum pernah bertatap muka langsung dengan mereka.


7. Saya Ingin Awet Muda
    Saat saya membaca buku "How To Be A Smart Writer" karya bunda Afifah Afra, saya begitu terkejut dengan salah satu isinya yang mengatakan bahwa menulis dapat membuat awet muda. Dalam buku itu dikatakan bahwa, Fatima Mernissi, seorang penulis wanita asal Maroko mengatakan bahwa kebiasaan menulis akan membuat kita awet muda. "Menulis lebih baik daripada operasi pengencangan kulit wajah!" demikian Pengantar bukunya.
Bahkan pesannya, "Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat Anda bangun tidur, menulis akan meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap, dan kulit Anda akan terasa segar kembali."

Wah ... gimana? Keren kan. Buat temen-temen yang perempuan patut dicoba nih, yang sering kantung matanya kelihatan karena nangisin doi yang gak peka. Uhuk. Atau yang laki-laki karena keasyikan begadang karena main game, sok atuh dicoba nulis pagi-pagi. Hehe..





Nah, jadi itulah 7 alasan mengapa saya menulis. Semoga bisa menjadi manfaat bagi temen-temen yang baca ya. Bagaimana dengan temen-temen sekalian? Sudahkah memiliki alasan kuat untuk menulis? Jika belum, ayo buat dari sekarang. Semangat terus dalam berkarya dan membagikan kebaikan, ya. Karena seperti sebuah kutipan favorit saya yang mengatakan,

"Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
(Pramoedya Ananta Toer)



Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya. Mata ne...

Komentar

  1. Suka tulisannya, boleh gak kakak mampir ke blog ku juga. savitriblogaddres.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan, Aku Merindukannya - Senandika Rindu

Hai, Fer. Aku rindu. Namun, sepertinya hingga kini aku masih tak bisa menitipkan rinduku untukmu. Tak apa. Sekarang aku sudah baik-baik saja. Lihat, aku sudah bisa tersenyum. Baiklah, maaf. Aku tahu, kesedihan ini masih kupendam sendirian. Kukubur dalam-dalam agar tak seorang pun mengetahuinya.  Kau tahu? Aku tak ingin membuatmu bersedih. Aku tak ingin membuatmu terluka. Setidaknya ... tidak lagi setelah kau pergi.  Aku sangat ingin membagikan kisah ini pada dunia, tapi ... hei. Aku tak tahu entah harus dari mana kisah ini dimulai. Bagiku, sejak kepergianmu, kisah ini sudah berakhir. Tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi yang harus aku katakan. Kau tahu? Seberapa sesak rindu yang selama ini menghinggapi dadaku?  Hei, Fer. Aku masih ingat senyum yang kau sunggingkan malam itu. Indah sekali. Rasanya, jika saja aku tahu kau akan pergi, aku tak akan pernah lepas dari senyum itu. Akan aku simpan rapat-rapat dalam memoriku. Agar aku tak akan pernah melupakannya. Jika saja aku...

Jalan Pilihan 📝

 Jalan Pilihan  Oleh : @leciseira  Ada banyak alasan yang membuatku menuliskan ini. Pertama, aku harap tulisan sederhanaku ini bisa senantiasa menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Menyadarkanku kembali bahwa aku masih menjadi manusia yang berlumur dosa. Aku masih menjadi manusia yang senantiasa berbuat salah. Jadi, aku membutuhkan penguat agar bisa terus berpegang pada kebaikan. Agar meski banyak godaan yang menerpa pun, aku tak akan mudah goyah. Aku tak akan mudah menyerah.  Sejak aku memilih menapaki jalan ini, jujur saja, aku selalu takut jika aku akan sendiri. Pada zaman ini, banyak orang yang berusaha memperbaiki diri akhirnya perlahan akan terasingkan. Dijauhi dari khalayak karena terlalu berpegang teguh pada iman. Tak gaul, tak keren. Begitu katanya. Namun, banyak orang yang selalu menguatkanku. Mengatakan dengan lembut bahwa pada akhirnya Islam memang akan kembali dalam keadaan asing. Seperti ketika datang yang juga dalam keadaan asing.  Sebenarnya, ad...

Pelangi Putih - Kumpulan Cerpen Leci Seira

Pelangi Putih Karya Leci Seira        Tampaknya langit menolak bersahabat dalam waktu singkat. Pantulan warna kelabu hampir memenuhi seisi kota. Gemuruh pun sudah berulang kali memperdengarkan keperkasaannya di balik mega. Belum lagi curahan kesedihan dari langit yang semakin lama semakin bertambah intensitasnya.  Di sebuah halte bus, seorang gadis remaja tengah melenguhkan napas beberapa kali. Air mukanya kesal karena mendapati dirinya terjebak di sana. Karena ia bangun kesiangan hari ini, ia terpaksa terjebak hujan di halte itu dan sepertinya harus melewati kelas pertamanya. Ia mengalihkan pandangannya pada ponsel ditangannya. Berharap ada pesan masuk atau apapun yang mengabarkan bahwa perkuliahan hari ini dibatalkan karena hujan deras. Namun, siapa yang peduli itu? Selama dosen bisa datang, maka mahasiswa tidak bisa memutuskan seenaknya.  Perut gadis itu tiba-tiba berbunyi. Ia melirik arlojinya, lalu dahinya mengerut sembari menghela napas....